Kangkung termasuk dalam tanaman Convolvulaceae. Ciri khas dari tanaman ini adalah batangnya yang berlubang dan bergetah. Kangkung memiliki kandungan vitamin A, vitamin C, dan mineral. Kangkung merupakan tanaman yang memiliki potensi ekonomi yang cukup besar. Kangkung banyak digemari masyarakat baik itu dari segi produsen maupun konsumen.
Jika dirunut dari tempat asalnya, ternyata kangkung bukanlah sayuran asli Indonesia. Pertama kali ditemukan, kangkung berada di Asia, Afrika, Amerika Selatan, Amerika Tengah, dan Oceania. Di kawasan Asia, kangkung tumbuh liar di kawasan berair. Tanaman yang memiliki nama latin Ipomeas spp. ini ternyata dapat ditanam hampir di semua jenis tanah (Rizki, 2013). Itulah salah satu kenapa para petani gemar untuk membudidayakan kangkung. Selain karena dapat ditanam di hampir semua jenis tanah, kangkung juga memiliki periode pemeliharaan yang singkat, daya tahannya yang relatif lama, dan harga jualnya relatif stabil (Pracaya dan Kartika, 2016).
Untuk para konsumen, kangkung termasuk salah satu sayuran favorit yang sering dicari konsumen saat membeli makanan di warung makan, terutama warung seafood. Kangkung pun menjadi salah satu menu wajib sayuran sebagai pelengkap hidangan (Rizki, 2013). Kangkung merupakan sumber gizi yang mudah diolah dan juga mudah didapat dengan harga murah.
Bertanam kangkung merupakan pilihan yang sangat tepat, baik untuk kepentingan konsumsi maupun untuk usaha. Hal ini karena masa periodenya singkat dan pemeliharaannya yang mudah. Akan tetapi, untuk menghasilkan produksi yang baik, kangkung tetap perlu dirawat dengan baik (Pracaya dan Kartika, 2016).

Pada artikel ini varietas tanaman kangkung yang digunakan adalah varietas OR NanaPada postingan kali ini juga akan disajikan dua hal utama terkait tanaman kangkung yaitu:
1. Teknik budidaya (persiapan benih - pascapanen)
2. Analisis usaha budidaya (TC, pendapatan, dan R/C Ratio)

Untuk file lengkapnya bisa sobat download DI SINI
Untuk alasan memposting artikel ini bisa dilihat DI SINI

Sumber:
Pracaya dan Juang Gema Kartika. 2016. Bertanam 8 Sayuran Organik. Jakarta: Penebar Swadaya.
Rizki, Farah. 2013. The Miracle of Vegetables. Jakarta: AgroMedia Pustaka.



Nitrogen adalah suatu unsur yang memiliki lambang N dan berada di golongan VA dalam tabel periodik. Unsur Nitrogen ini memiliki nomor atom 7. Sumber nitrogen terbesar bagi tanaman berasal dari N atmosfer. Nitrogen organik yang dibenamkan ke dalam tanah merupakan N organik tanah yang bentuk kimianya tidak dapat diserap begitu saja oleh tanaman. Dalam bentuk NO3-, nitrogen mudah keluar dari daerah perakaran.  Nitrogen mudah tercuci karena besar muatan listrik positif tanah biasanya sangat kecil.  Nitrogen dalam bentuk NO3- juga dapat tereduksi secara mikrobiologis menjadi NO, N2O, atau N2 yang menguap.
       Jumlah NH4+ dan NO3- di dalam tanah dapat bertambah akibat dari pemupukan N, fiksasi N biologis, hujan, dan penambahan bahan organik.  Sedangkan berkurangnya jumlah NH4+ dan NO3- disebabkan oleh pencucian, pemanenan, denitrifikasi, dan juga votalisasi.  Air sangat berperan sekali dalam dinamika nitrogen tanah.
        Cara utama nitrogen masuk ke dalam tanah adalah akibat kegiatan jasad renik, baik yang hidup bebas maupun yang bersimbiose dengan tanaman. Dalam hal yang terakhir nitrogen yang diikat digunakan dalam sintesa amino dan protein oleh tanaman inang. Jika tanaman atau jasad renik pengikat nitrogen bebas, maka bakteri pembusuk membebaskan asam amino dari protein, bakteri amonifikasi membebaskan amonium dari grup amino, yang kemudian dilarutkan dalam larutan tanah. Amonium diserap tanaman, atau diserap setelah dikonversikan menjadi nitrat oleh bakteri nitrifikasi
       Faktor-faktor yang mempengaruhi ketersediaan N adalah kegiatan jasad renik, baik yang hidup bebas maupun yang bersimbiose dengan tanaman. Pertambahan lain dari nitrogen tanah adalah akibat loncatan suatu listrik di udara. Nitrogen dapat masuk melalui air hujan dalam bentuk nitrat. Jumlah ini sangat tergantung pada tempat dan iklim. Fungsi N adalah memperbaiki pertumbuhan vegetatif tanaman dan pembentukan protein. Gejala-gejala kekurangan N adalah tanaman kerdil, pertumbuhan akar terbatas, dan daun-daun kuning dan gugur. Gejala-gejala kebanyakan N adalah memperlambat kematangan tanaman, batang-batang lemah mudah roboh, dan mengurangi daya tahan tanaman terhadap penyakit. Nitrogen di dalam tanah terdapat dalam berbagai bentuk yaitu protein, senyawa-senyawa amino, Amonium (NH4+), dan Nitrat (NO3-)
Nitrogen (N2) merupakan gas yang tak berbau, tak berwarna, tidak ada rasa dan bersifat inert yaitu gas diatomik bukan logam yang stabil dimana sangat sulit bereaksi dengan unsur dan senyawa lainnya. Nitrogen (N2) mengisi kurang lebih 78% atmosfer bumi sisanya oksigen (O2) 21%, Argon (Ar) 1% dan gas lainnya. Nitrogen terdapat dalam banyak jaringan hidup dan pembentuk senyawa penting seperti asam amino dan asam nitrat yang merupakan komponen terpenting pembentuk DNA dan RNA.
        Tidak semua N bisa diserap oleh tanaman. Bentuk N yang dapat diambil oleh tanaman dari tanah adalah nitrat (NO3-) dan amonium (NH4+). N dalam bentuk NO3-mudah keluar dari daerah perakaran. Menurut Hakim (1986) pada musim kemarau, jumlah NO3di bagian tanah atas akan meningkat secara perlahan-lahan.  pada musim hujan nitrogen organik melonjak dan selanjutnya menurun secara cepat sepanjang sisa musim hujan tersebut.  Besar fluktuasi musiman dari nitrogen anorganik ini bersesuaian dengan intensitas dan frekuensi hujan.

Untuk artikel lengkap bisa download DI SINI

Alasan mengangkat artikel ada DI SINI

Copyright: 
Ali Hanafiah, Kemas. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Foth, H. D. 1994. Dasar – Dasar Ilmu Tanah. Erlangga. Jakarta.
Hakim, N.Y.M, Nyakpa, M.A. Lubis, dkk. 1986. Dasar – Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung. Lampung.
Hardjowigeno, Sarwono. 2015. Ilmu Tanah. CV Akademika Pressindo. Jakarta.